Sarinah: Masa Dulu dan Masa Kini

Penulis: Depi Andriani, Wakabid.Sarinah DPK GMNI UISU periode 2020-2021.Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara.
Sarinah merupakan perempuan desa pengasuh Soekarno masa kecil yang berjasa menanamkan rasa cinta Soekarno terhadap orang kecil. Bagi Soekarno sarinah adalah simbol orang kecil namun berbudi luhur.
Dalam sejarah pergerakan perempuan, perempuan masa dulu tidaklah mendapat kemerdekaan karena mereka tidak bisa bebas dan berkembang seperti saat ini. Sebaliknya mereka dituntut untuk berada di rumah, mengurus anak dan melayani suami saja.
Masa dulu dalam bermasyarakat kaum laki-laki merasa dirinya cukup bijaksana dalam mengambil keputusan, sedang perempuan tidak ikut bicara dan disuruh terima saja apa yang di putuskan kaum laki-laki.
Padahal, menurut Soekarno,yang dituangkan dalam bukunya berjudul Sarinah, soal perempuan bukan soal perempuan saja melainkan soal masyarakat.
Dalam buku yang berjudul Sarinah tersebut mengungkapkan pemikiran Soekarno terkait kemerdekaan perempuan, yakni ketika Soekarno bertamu ke rumah temannya dan melihat isteri dari temannya tersebut tidak di ijinkan berjumpa dengan tamunya.
Soekarno kemudian bertanya kepada temannya, mengapa tidak memberikan sedikit kemerdekaan untuk isteri nya itu. Lalu dijawab oleh temannya bahwa itu adalah cara dia untuk menghargai istrinya sebagaimana sebutir mutiara.
Tidak mengijinkan istrinya keluar rumah untuk menjaga agar jangan sampai istrinya itu di hina orang. Bukan untuk mengurangi kebahagiaan isterinya.
Dengan jawaban temannya itu Soekarno jelas tidak sependapat, karena kemerdekaan perempuan seperti itu akan membuat posisi perempuan menjadi terbelakang.
Bahwa masa dulu masih banyak perempuan yang dikurung di antara dinding-dinding yang tinggi sehingga yang dilihat mereka hanyalah suami,anak,dapur sumur dan kasur.
Kendati demikian, keterbelakangan itu dapat di manfaatkan untuk melihat keadaan kaum perempuan di negara-negara lain, sehingga kita bisa memetik yang baik dan membuang yang buruk.
Misalnya seperti hasil-hasil pergerakan feminisme dan non feminisme di Eropa, menurut Henriette Roland Holst, bahwa feminisme atau non feminisme tidak mampu menutup”scheur”(retak) perikehidupan jiwa kaum perempuan.
Sejalan dengan perkembangan zaman, posisi perempuan masa kini sudah mengalami kemajuan di tengah-tengah masyarakat.
Dimana perempuan dapat berpartisipasi dalam masyarakat dengan berkarir,ikut melibatkan diri dalam ekonomi dan politik serta berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, di samping harus tetap ingat akan kodratnya sebagai perempuan.
Dengan perkembangan zaman dan kemerdekaan perempuan akan berbanding lurus dengan kemajuan negara, seperti yang kita tahu bahwa jika baik perempuannya, maka akan baik juga negaranya.
Namun, kembali lagi bahwa segala sesuatu haruslah diletakkan sesuai porsi atau kodratnya masing-masing.
Oleh sebab itu, seperti yang di tuangkan dalam buku Sarinah, perempuan selain mendidik anak, perempuan di tuntut untuk berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi serta berkontribusi dalan kehidupan bermasyarakat dan tidak terlena dalam hedonisme.
Penulis : Depi Andriani, Wakabid.Sarinah DPK GMNI UISU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar