Kebijakan PT. Himbara: Marhaenisme VS Kapitalisme

Penulis : Julpadli Simamora, Ketua DPK GMNI UISU Periode 2020-2021.
Tentang Marhaenisme
Marhaenisme adalah Ideologi yang menentang penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Ideologi ini dikembangkan oleh presiden Pertama Republik Indonesia Ir.Soekarno,dari pemikiran Marxisme yang diterapkan sesuai dengan natur dan kultur Indonesia.
Marhaenisme pada esensinya adalah sebuah ideologi perjuangan yang terbentuk dari Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Marhaenisme adalah salah satu pemikiran yang dihasilkan oleh Soekarno setelah ia melihat realitas sosial ekonomi dan masyarakat di Nusantara yang dijajah oleh Belanda.
Marhaenisme adalah asas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang di dalam segala hal menyelamatkan Marhaen.
Marhaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susunan masyarakat dan susunan negeri yang demikian itu,yang oleh karenanya harus suatu cara perjuangan yang revolusioner. Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan asas yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan Imperialisme.
Soekarno merujuk istilah Marhaen pada orang yang memilik modal (alat produksi) berdaya secara ekonomi dan kelompok masyarakat lain yang tertindas oleh kolonialisme lebih khusus lagi Soekarno merujuk istilah marhaen pada petani masa kolonial belanda karena Soekarno melihat adanya penyimpangan dari praktek ekonomi yang disebabkan oleh kolonialisme yang terjadi di Indonesia. (Sumber: Dibawah Bendera Revolusi jilid I dengan judul marhaen dan proletar)
Sistem Ekonomi Marhaenisme
Marhaenisme merupakan suatu teori yang berkembang pada era kapitalisme berwujud imperialisme dan kolonialisme di Indonesia pada awal abad ke-20, yang dirumuskan oleh Soekarno sebagai teori politik sekaligus teori perjuangan untuk mempersatukan dan membebaskan rakyat Indonesia dari sistem kapitalisme tersebut.
Dalam perkembangannya, Marhaenisme memang mendapatkan peran dan posisi penting dalam masyarakat Indonesia pada masa tersebut terutama saat dijadikan sebagai asas dan ideologi suatu partai politik dan atau organisasi kemasyarakatan yang menentang sistem kapitalisme.
Apalagi pada masa Soekarno menjabat sebagai Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia, Marhaenisme menjadi istilah yang populer di kalangan rakyat Indonesia dan banyak kebijakan-kebijakan Soekarno yang anti-kapitalisme diterapkan di Indonesia. Namun dalam perkembangan selanjutnya, terutama setelah Soekarno tidak lagi berkuasa kemudian diikuti bubarnya beberapa partai politik dan dilebur kedalam satu partai politik pada masa Orde Baru, Ekonomi marhaenisme tentu mengandung unsur Alqur’an di dalamnya sebab dicampur baurkan antara ekonomi kerakyatan dengan ekonomi islam itu sendiri.
Ekonomi islam tentu mengajarkan pandangan ekonomi sesuai dengan syariat Islam, akan tetapi itu adalah keberpihakan terhadap Islam itu sendiri. Mengenai dan Situasi kondisi Ekonomi yang ideal menurut soekarno ia merujuk pada sosialisme, menurutnya sosialisme adalah salah satu kecukupan yang wajar disokong oleh dunia modern yang sudah di kolektivitas. Sosialisme adalah aliran pemikiran ekonomi yang berakar pada pemikiran yang diungkapkan oleh Karl-Max.
Sesuai dengan perjuangannya yaitu kaum marhaen, maka marhaenisme mengutamakan pada bidang Ekonomi. Menurut Soekarno, tipe kolonialisme – imperialisme ekonomi yang dilakukan Negara Eropa Barat dan Amerika Serikat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya di masing-masing negara penjajah yang kemudian mempengaruhi pula corak Imperialisme-kolonialisme yang diterapkan masing-masing negara penjajah di wilayah jajahannya.
Kolonialisme dan Imperialisme yang dilakukan oleh belanda tidak hanya berdampak pada kehidupan ekonomi bangsa Indonesia tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan budayanya.
(Sumber: Cindi Adams, Penyambung lidah rakyat Indonesia Edisi revisi, cetakan ketiga tahun 2014, halaman 95
Indonesia menggugat, Departemen Republik Indonesia (ejaan lama) halaman 60-138
Soekarno, Di bawah Bendera Revolusi Jilid I tahun 2005)
Pemahaman Tentang Kapitalisme
Kapitalisme adalah stelsel pergaulan hidup,yang timbul daripada cara produksi yang memisahkan kamu buruh dari alat-alat produksi menjadi sebab merwaarde tidak jatuh di dalam tangannya kaum buruh melainkan jatuh di dalam tangannya kaum majikan.
Itulah kapitalisme yang prakteknya biasa kita lihat di seluruh dunia. Itulah kapitalisme yang ternyata menyebarkan kesengsaraan, pengangguran, peperangan dan kematian. Pendek kata menyebabkan rusaknya susunan dunia yang sekarang ini. Itulah kapitalisme yang melahirkan modern Imperialisme yang membikin kita dan hampir seluruh bangsa berwarna menjadi rakyat yang celaka!
Kapitalisme bangsa sendiri?
Kapitalisme bangsa sendiri yang biasa kita gunakan untuk memerangi Imperialisme? Apakah kita juga harus ganti kapitalisme bangsa sendiri itu,dan menjalankan perjuangan kelas alias klssenstrijt. Dengan tentu di sini saya akan menjawab : Ya, kita harus juga anti kepada kapitalisme bangsa sendiri itu! Kita juga harus anti kepada isme yang ikut menyengsarakan rakyat marhaen itu.
Secara Umum kapitalisme itu adalah sebuah Ideologi yang meyakini bahwa modal miliki perorangan ataupun sekelompok orang bisa mewujudkan kesejahteraan manusia. Kapitalisme adalah sebuah metode produksi yang bertujuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya produksi sekecil-kecilnya. Minimalis biaya produksi dicapai dengan menekan upah para pekerja. Kapitalisme juga sering dilakukan oleh perusahaan yang memiliki modal besar.
(Sumber: Dibawah Bendera Revolusi (DBR) Jilid I.judul Kapitalisme Bangsa Sendiri?)
Kapitalisme di Indonesia
Kapitalisme yang terus tumbuh di Indonesia sampai saat ini ternyata tidak lepas dari pengaruh kolonialisme Belanda. Kamu tentu masih ingat masa berlakunya sistem tanam paksa dari VOC, kan? Peristiwa itulah yang jadi akar kapitalisme di Indonesia.
Kekejaman sistem tanam paksa oleh Belanda ini jadi bentuk nyata dari kapitalisme, yakni Belanda memeras kekayaan pribumi demi memenuhi kepentingan pemerintahannya sendiri. Setelah sistem tanam paksa ini hilang dan Indonesia merdeka, kapitalisme di Indonesia berkembang dengan bentuk imperialisme baru. Pada masa Orba, modal-modal asing mulai masuk ke Indonesia dan gap antar masyarakat yang punya modal dan tidak punya modal pun makin terlihat.
Sayangnya, sampai saat ini sistem kapitalisme masih berkembang di Indonesia. Bisa kita lihat di mana kekayaan sumber daya Indonesia masih dieksploitasi oleh negara-negara lain. Meski begitu, kita pun bisa melihat upaya Pemerintah Indonesia untuk mencegah hal tersebut terus terjadi, bisa dilihat dari kasus Freeport di Papua yang akhirnya 51% saham bisa dikuasai oleh Indonesia.
Sudut Pandang Mahasiswa Terhadap PT. Himbara
Melihat beberapa pengertian dan penjelasan di atas terkait Marhaenisme dan Kapitalisme, maka saya sebagai mahasiswa memberikan pandangan terkait PT. Himbara yang akhir-akhir ini sedang viral di indonesia.
Merujuk dari pengertian kapitalisme di atas maka menurut saya yang di lakukan PT. Himbara adalah tidak lain dan tidak bukan konsep kapitalisme itu sendiri yang di mana dengan adanya kebijakan yang dibuat PT. Himbara kepada setiap nasabah yang melakukan cek saldo dan tarik tunai dikenakan biaya yang masing –masing cek saldo dengan membayar Rp.2.500 dan tarik tunai Rp.5000.
Tentu ini sangat memberatkan kepada masyarakat Indonesia yang melakukan transaksi melalui ATM link tersebut. Apalagi di mana masyarakat Indonesia pada saat ini juga sedang dilanda pandemi Covid -19 yang tentu belum tau kita kapan akan berakhir. Belum lagi kebijakan tersebut dikeluarkan pada 1 Juni yang merupakan hari lahirnya pancasila.
Tentu kalau dilihat dari sistem ekonomi pancasila juga sangat bertentangan dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan PT. Himbara tersebut karena hari lahirnya pancasila adalah hari yang sakral bagi seluruh rakyat Indonesia karena pancasila merupakan ideologi Negara, kemudian dengan adanya kebijakan PT. Himbara tersebut dinilai sangat menodai hari lahirnya pancasila itu.
Harapannya semoga pemerintah meninjau kembali atau mengevalusi kembali terkait akan dikeluarkannya kebijakan PT. Himbara tersebut bila perlu dengan memberhentikan pihak-pihak yang terkait di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar